Potensi Kelapa Sawit di Jambi

Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan unggulan baru yang mulai di kembangkan secara besar-besaran di Provinsi Jambi pada pertengahan dasawarsa 1990-an. Dewasa ini, hampir semua kabupaten (kecuali Kabupaten Kerinci) dikembangkan perkebunan kelapa sawit melalui berbagai pola pengembangannya, baik dalam bentuk perkebunan besar swasta (PBS), perkebunan besar negara (PBN), perkebunan rakyat plasma ataupun dalam bentuk swadaya murni oleh petani perkebunan. Walaupun merupakan komoditas yang baru dikembangkan, namun perkebunan kelapa sawit sudah menjadi basis ekonomi masyarakat di Provinsi Jambi, khususnya di Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat. Sebagian besar produksi kelapa sawit di Provinsi Jambi dipasarkan dalam bentuk minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO), hanya sebaian kecil (kurang dari 5%) yang diolah menjadi minyak goreng sawit (frying oil), sehingga terbuka peluang yang besar untuk mengembangkan produk turunan (downstream industry) minyak kelapa sawit di Provinsi Jambi. Hal ini mengingat, produksi CPO Provinsi Jambi lebih dari 1 juta ton per tahun dan terdapat lebih dari 100 jenis produk turunan yang secara teknis dapat dikembangkan dari komoditas CPO. Dari hasil kajian diketahui jenis downstream industry CPO yang prospektif untuk dikembangkan di Provinsi Jambi adalah industri yang menghasilkan produk setengah jadi (intermediate products), baik dari golongan oleopangan dengan produk berupa: fatty acid, fatty alchohol, fatty amine, methyl esther dan glycerol. Agribisnis kelapa sawit di Provinsi Jambi masih berada pada tahap pertumbuhan, sehingga hampir semua bidang usaha yang ada di dalam sistem agribisnis kelapa sawit prospektif untuk di kembangkan di Provinsi Jambi. Perluasan areal kelapa sawit seluas lebih dari 25.000 Ha per tahun membutuhkan sedikitnya 4 juta bibit per tahun membutuhkan sedikitnya 4 juta bibit per tahun. Peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 750.000 ton per tahun membutuhkan penambahan pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas 30 ton TBS/jam sejumlah 6 PKS per tahun. Selanjutnya, peningkatan produksi CPO membutuhkan industri hilir (downstream industry) untuk mengolah CPO menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi.